Di antara tanda-tanda kiamat sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Muhammad Saw adalah bahwa “waktu akan bergerak lebih cepat, sehingga setahun seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam seperti jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan api.”

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونُ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ وَتَكُونُ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ وَيَكُونُ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ وَتَكُونُ السَّاعَةُ كَالضَّرْمَةِ بِالنَّارِ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga waktu bergerak lebih cepat, sehingga setahun seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam seperti jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan api.” ~ (Sunan Al-Tirmidzi)

Mengapa demikian?

Nabi menjelaskan bahwa persepsi waktu bergerak lebih cepat adalah akibat dari ‘mengingat’ Allah Swt (dzikir) yang sudah meninggalkan hati, dan keasyikan terhadap kehidupan duniawi menguasai hati manusia.

Nabi Muhammad Saw juga memperingatkan bahwa pada suatu masa akan muncul kekacauan besar yang datang seperti ombak lautan yang mana “Banyak godaan akan dihadapkan kepada hati manusia seperti tikar buluh yang dianyam satu per satu dan setiap hati yang diresapi oleh mereka (godaan-godaan itu) akan memiliki tanda hitam, tetapi setiap hati yang menolak godaan godaan itu akan memiliki tanda putih. Sehingga akan ada dua jenis hati: satu, putih seperti batu putih yang tidak akan bisa dinodai oleh kekacauan atau godaan, selama langit dan bumi bertahan; dan yang lainnya, hitam seperti bejana yang kotor, tidak mengenali sesuatu yang baik atau tidak dapat menolak sesuatu yang buruk, tetapi [hatinya] diselimuti oleh nafsu.”

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Banyak godaan akan dihadapkan kepada hati manusia seperti tikar buluh yang dianyam satu per satu dan setiap hati yang diresapi oleh mereka (godaan-godaan itu) akan memiliki tanda hitam, tetapi setiap hati yang menolak godaan-godaan itu akan memiliki tanda putih. Sehingga akan ada dua jenis hati: satu, putih seperti batu putih yang tidak akan bisa dinodai oleh kekacauan atau godaan, selama langit dan bumi bertahan; dan yang lainnya, hitam seperti bejana yang kotor, tidak mengenali sesuatu yang baik atau tidak dapat menolak sesuatu yang buruk, tetapi [hatinya] diselimuti oleh nafsu. ~ (Al-Muslim)

Tidak diragukan lagi bahwa saat ini yang disebut-sebut sebagai ‘zaman kemajuan’ merupakan zaman di mana tanda-tanda kiamat telah bermunculan. Ini adalah zaman sekularisme. Bahkan negara sudah sekuler, begitu juga dengan politik, ekonomi, pendidikan, pasar, media, olahraga, hiburan, dll. Ruang makan dan ruang tidur saat ini juga sudah disekulerkan. Sekularisme dimulai dengan ‘mengecualikan Allah’, dan memuncak dengan ‘menolak Allah’!

Bagaimana bisa?

Ketika pengetahuan disekulerkan, hal ini akan mengarah pada keyakinan bahwa pengetahuan hanya berasal dari satu sumber, yaitu pengamatan eksternal dan penyelidikan rasional. Implikasi dari penggunaan epistemologi ini adalah sebagai berikut: karena dunia material ini adalah satu-satunya dunia yang bisa kita ‘tahu’, maka ini adalah satu-satunya dunia yang benar-benar ‘ada’.

Dengan demikian, sekularisme itu mengarah pada materialisme, yaitu penerimaan, bahwa tidak ada realitas di luar realitas material. Dan materialisme telah membawa umat manusia ke dunia yang penuh keserakahan, kebohongan, pergaulan bebas, ketidakadilan, penindasan, kefasikan, dan pengkhianatan besar karena fondasi moral masyarakat tidak dapat dipertahankan tanpa hati spiritual agama. Dan dunia semacam ini sama sekali tidak peduli dengan hal-hal seperti ‘mengingat” Allah Swt (dzikir).

Apa itu ‘dzikir’?

Ketika seseorang dengan tulus dalam hatinya mencintai orang lain, dia bergetar ketika keharuman mempesona (rasa cinta) menyelimuti hatinya. Hal itu terjadi setiap saat! Ketika dia mendengar nama orang itu disebutkan, hal yang sama terjadi. Itu adalah ‘dzikir’ (mengingat)! Jelas ‘dzikir’ hanya mungkin terwujud jika ada cinta sejati. Dan ketika cinta kepada Allah Swt benar-benar sudah berangkat dari hati maka ‘waktu’ akan bergerak lebih cepat dan akan semakin cepat. Ketika ketika cinta yang tulus kepada Allah Swt memungkinkan kebenaran (al-Haq) untuk masuk dan mengambil hati manusia, maka ‘waktu’ pasti akan bergerak lebih lambat dan semakin lambat, sampai kebenaran itu (al-Haq) membawa kita ke dunia ‘tak lekang oleh waktu’.

(Sumber: Imran N. Hosein, al-Tirmidzi, al-Muslim)