Agama Kesatuan

Kesatuan Tuhan (Tauhid)

Islam mengajarkan bentuk paling murni dari Monoteisme dan menganggap politeisme sebagai dosa yang paling besar. Seorang Muslim menyebut TUHAN dengan Nama pribadi-Nya: ALLAH (الله) — kata “tuhan” dan padanannya dalam bahasa lain menjadi tidak stabil dalam hal konotasi. Allah, menurut Islam, adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tak terpisahkan secara Pribadi dan yang tidak memiliki pasangan: istri, putra atau putri. Dia adalah yang tidak ada bandingannya dan “tidak ada yang sama seperti Dia”. “Dia tidak memperanakkan, bukan pula Ia yang diperanakkan”. Dia adalah yang pertama, yang terakhir, yang abadi, yang tak terbatas, yang maha kuasa, yang mahatahu, yang mahaada. Dia adalah sang pencipta, pemelihara, penghias segala sesuatu. Dia adalah yang maha adil, penuntut dari kesalahan yang dilakukan kepada yang lemah dan yang tertindas, yang maha pengasih, pengampun, penyayang, sang pembimbing, teman, yang agung, yang mulia, yang indah dan yang sejati. Singkatnya, Dia adalah Pemilik Semua Keunggulan.

Berbicara tentang konsep Tuhan dalam Islam, Gibbon, sejarawan barat yang terkenal, mengatakan:

The Creed of Muhammad is free from the suspicion of ambiguity and the Qur’an is a glorious testimony to the unity of God. The prophet of Mecca rejected the worship of idols and men, of stars and planets, on the rational principle that whatever is corruptible must decay and perish, that whatever is born must die, that whatever rises must set. In the Author of the universe his rational enthusiasm confessed and adored an infinite and Eternal Being, without form or place, without issue or similitude, present to our secret thoughts, existing by the necessity of His own nature, and deriving from Himself all moral and intellectual perfections. These sublime truths are defined with metaphysical precision by the interpreters of the Qur’an. A philosophic theist might subscribe to the popular creed of the Muhammadans.

Kepercayaan Muhammad bebas dari kecurigaan akan ambiguitas dan al-Qur’an adalah kesaksian yang mulia akan keesaan Tuhan. Nabi Mekah ini menolak penyembahan berhala dan manusia, bintang dan planet, atas prinsip rasional bahwa apa pun yang bisa binasa akan membusuk dan lenyap, bahwa apa pun yang dilahirkan akan mati, bahwa apa pun yang terbit akan terbenam. Pada sang Pencipta alam semesta, antusiasme rasionalnya mengakui dan memuja Wujud Tak Terbatas dan Abadi, tanpa bentuk atau tempat, tanpa kesalahan atau kesamaan, hadir dalam pikiran-pikiran rahasia kita, yang ada karena sifat-Nya sendiri, dan berasal dari diri-Nya semua moral dan kesempurnaan intelektual. Kebenaran yang agung ini didefinisikan dengan ketepatan metafisik oleh para penafsir al-Qur’an. Seseorang yang meyakini keberadaan Tuhan sepertinya akan mau menganut keyakinan Muhammad yang populer ini.

Kesatuan Alam Semesta

Dari Kesatuan Sang Pencipta, menurut Islam, berlanjut pada Kesatuan Alam Semesta, yaitu Kesatuan Penciptaan dan Kesatuan Tujuan. Dengan kata lain, cosmos/ alam semesta adalah suatu Tatanan Moral.

Kesatuan Umat Manusia

Islam menganggap seluruh umat manusia sebagai “kesatuan organik” – satu keluarga, dan dengan tegas mengatakan bahwa perbedaan dalam hal duniawi, seperti ras, warna kulit, bahasa atau wilayah, tidak dapat membentuk dasar bagi klaim superioritas satu kelompok di atas yang lain. Satu-satunya perbedaan yang memiliki “nilai” adalah yang muncul pada bidang moral dan spiritual — yaitu, perbedaan “taqwa”, atau, “kesalehan dan kebenaran”.

Prof. H. A. R. Gibb, kritikus tentang Islam asal Inggris yang terkenal, mengatakan:

… Islam… possesses a magnificent tradition of inter-racial understanding and co-operation. No other society has such a record of success in uniting in an equality of status, of opportunity and of endeavour so many and so various races of mankind… If ever the opposition of the great societies of East and West is to be replaced by co-operation, the mediation of Islam is an indispensable condition. (Whither Islam? p. 379)

… Islam… memiliki tradisi pemahaman dan kerjasama antar-ras yang luar biasa. Tidak ada masyarakat lain yang memiliki catatan keberhasilan seperti itu dalam menyatukan persamaan status, kesempatan, dan usaha yang begitu keras dari begitu banyak ras umat manusia… Jika oposisi dari masyarakat besar Timur dan Barat ingin digantikan dengan kerja sama, mediasi Islam adalah satu-satunya hal yang diperlukan. (Whither Islam? hal. 379)

Kesatuan Agama

Menurut Islam, intelektualitas manusia, meskipun merupakan aset yang besar dan kuat, memiliki batas-batas alamiahnya, dan, oleh karena itu, baik ilmu normatif maupun empiris tidak mampu menuntun umat manusia ke pengetahuan yang pasti tentang kebenaran-kebenaran akhir dan teka-teki kehidupan. Sebagai konsekuensinya, satu-satunya sumber pengetahuan yang pasti yang terbuka bagi umat manusia adalah, Panduan Ilahi, dan itu tentu saja telah benar-benar terbuka sejak awal kehidupan manusia di bumi. Allah mengangkat “Nabi” dan “Rasul-Nya” dan mengungkapkan Panduan-Nya kepada mereka untuk diteruskan ke umat manusia. Berasal dari sumber yang sama, semua agama yang diwahyukan sebenarnya hanya satu, yaitu, ISLAM.

Para Nabi dan Rasul Allah terus datang ke setiap negeri dan komunitas untuk menuntun kaum mereka masing-masing. Dari waktu ke waktu, Panduan (wahyu) yang diungkapkan entah hilang atau rusak melalui interpolasi manusia, dan para Nabi baru dengan Dispensasi baru dikirim, dan umat manusia terus meningkat baik dari segi jumlah maupun peradaban. Akhirnya, ketika tahap kedewasaan umat manusia tercapai — ketika umat manusia telah benar-benar menjadi satu keluarga — Panduan (wahyu) yang diturunkan bukan hanya ditujukan kepada bagian-bagian komunitas umat manusia, Wahyu yang sempurna, terakhir dan abadi, yang ditujukan kepada seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang waktu, diturunkan pada abad ketujuh dari Era Kristen. Wahyu itu, yang merekapitulasi semua Wahyu sebelumnya dan dengan demikian menetapkan Kesatuan Agama, yaitu ISLAM; kitab suci yang mengabadikannya adalah QUR’AN, dan Nabi yang membawanya adalah Pemimpin Kemanusiaan, MUHAMMAD (SAW)!.

Dengan demikian semua Nabi Allah, dari Adam sampai Nuh, Ibraham, Musa dan Isa (as), adalah para Nabi seorang Muslim, Nabi Muhammad (saw) menjadi yang Terakhir dan Penutup, dan semua Kitab Suci Ilahi adalah Kitab Suci seorang Muslim, meskipun yang diikuti hanya Al-Qur’an karena hanya tinggal Al-Qur’an lah yang kemurnian dan keasliannya masih terjaga dan kitab suci itu sendiri sudah mengandung ajaran Islam yang telah diikuti oleh semua orang yang dibimbing dengan benar sejak manusia pertama diciptakan.

Kesatuan Gender

Perbedaan fungsi telah membuat keliru budaya tertentu di dunia untuk menganggap wanita sebagai makhluk yang berbeda dan lebih rendah, sehingga mendapat perlakuan tidak manusiawi. Islam dengan tegas menolak gagasan itu dan mengajarkan bahwa baik pria maupun wanita muncul dari esensi yang sama dan sumber yang sama dan karena itu memiliki status yang sama sebagai manusia. Fungsi dan minat pria dan wanita, bukannya dianggap sebagai hal yang berlawanan, namun dimaksudkan untuk saling melengkapi. Oleh karena itu, hubungan alami antara kedua gender ini, dalam semua aspeknya, adalah cinta/ kasih sayang dan harmoni, yang tanpanya tidak ada kemajuan umat manusia yang sejati yang mungkin terjadi.

Kesatuan Kelas

Islam bertujuan menciptakan masyarakat tanpa kelas dengan menghilangkan semua konflik sosial yang mungkin terjadi (melalui perputaran berbagai kepentingan).

Di bidang ekonomi, Islam meletakkan prinsip bahwa kekayaan tidak seharusnya diizinkan untuk beredar di kalangan orang kaya saja, dan memandang, melalui hukum dan lembaga-lembaganya, suatu “Kesejahteraan Bersama”.

Di bidang politik, Islam merupakan suatu “Persekutuan Bersama Pengejar Kebenaran”.

Secara keseluruhan, negara Islam adalah “negara kesejahteraan” di mana kedaulatan hanya milik Allah dan tidak ada manusia yang memiliki hak untuk memerintah manusia lain kecuali atas nama Allah dan sesuai dengan kehendak-Nya, dan tidak seorang pun, bahkan tidak Kepala Negara, berada di atas hukum. Keadilan Mutlak adalah semboyannya dan Penegakan Keadilan adalah tujuannya.

Kelebihan etika sosial Islam telah memunculkan pujian bahkan dari kritikus yang bukan beragama Islam. Contohnya,

H. G. Wells berkata:

Islam menciptakan suatu masyarakat yang lebih bebas dari kekejaman dan penindasan sosial yang meluas yang pernah dialami suatu masyarakat di dunia sebelumnya. (Outline of History, hal.325)

H. A. R. Gibb mengatakan:

Dalam dunia Barat, Islam masih mempertahankan keseimbangan antara pertentangan yang berlebih-lebihan. Menentang anarki nasionalisme Eropa dan resimen komunisme Rusia, belum menyerah pada obsesi itu dengan sisi ekonomi kehidupan yang merupakan ciri khas Eropa dan Rusia masa kini. (Whither Islam? hal. 378)

Prof. Louis Massignon mengatakan:

Islam memiliki keunggulan dalam menegakkan konsep kesetaraan … Hal ini menengahi antara doktrin Kapitalisme Borjuis dan Komunisme Bolshevist. (Whither Islam? hal.378)

Kesatuan Aktivitas Manusia

Islam menganggap kepribadian manusia sebagai “kesatuan”, sehingga menganggap pemisahan “duniawi” dan “keagamaan” sebagai sesuatu yang tidak ilmiah, irasional dan tidak masuk akal. Kehidupan seorang Muslim, baik dalam perwujudan individu maupun sosialnya, adalah kehidupan yang dijalani hanya untuk Tuhan.

Dudley Wright, cendekiawan Perbandingan Agama, mengatakan,

Islam bukan sekedar keyakinan belaka; itu adalah kehidupan yang harus dijalani. Dalam al- Qur’an dapat ditemukan petunjuk untuk apa yang kadang-kadang disebut sebagai detail kecil dari kehidupan sehari-hari, tetapi tidak kecil ketika dianggap bahwa kehidupan harus dijalani untuk Tuhan. Muslim hanya hidup untuk Tuhan. Tujuan seorang Muslim adalah untuk menjadi terikat dengan Tuhan, dan berusaha untuk meningkatkan pengetahuan tentang Tuhan dalam semua usahanya. Dari buaian sampai kuburan, Muslim sejati hidup untuk Tuhan dan hanya Tuhan.

Agama “Penyerahan Pada Kehendak Ilahi”

Kata “Islam” berarti “penyerahan”, “ketundukan”, “pengabdian”, “kepatuhan” dan, sebagai istilah agama, Islam berkonotasi “penyerahan kepada Kehendak dan Perintah Tuhan”. Dengan demikian, ISLAM itu saling berkaitan dan sejalan dengan ALAM. Karena, segala sesuatu yang ada di alam tunduk dan tanpa keberatan pada kehendak Ilahi. Satu-satunya pengecualian adalah manusia. Dia harus memilih “Islam” melalui kehendak bebasnya (free will) dan dengan demikian ia mencapai takdirnya bersama-sama dengan seluruh ciptaan Tuhan lainnya.

Goethe, filsuf-penyair terkenal dari Jerman, mengatakan:

Naerrisch, dass jeder in seinem Falle
Seine besondere meinung priest!
Wenn Islam Gott ergeben heisst,
Im Islam leben und sterben wir alle.

Ini adalah kurangnya pemahaman bahwa setiap orang memuji pendapat (hasil pemikiran) sendiri; (sementara) Islam berarti tunduk kepada Tuhan dan dalam Islam kita semua hidup dan mati.

Agama Alami

Pernyataan di atas menghasilkan, dan al-Quran menekankan dalam istilah yang jelas, bahwa menjadi seorang Muslim adalah untuk hidup dan tumbuh sesuai dengan sifat manusia yang sejati dan selaras dengan Alam sekitar. Dengan demikian, Islam berarti kesesuaian dengan Hukum Alam.

Agama Disiplin

Konsep Penyerahan kepada Kehendak Tuhan dan Kesesuaian dengan Hukum Alam, ketika diwujudkan dalam kehidupan manusia, menimbulkan bentuk DISIPLIN yang paling sehat dan Islam adalah agama yang paling unggul dalam hal Kedisiplinan.

Dalam bukunya yang terkenal; First and Last Things, H. G. Wells mengatakan:

The aggression, discipline and submission of Muhammadanism makes, I think… fine and honourable religion for men. Its spirit, if not its formulae, is abundantly present in our modern world… I have no doubt that in devotion to a virile… Deity and to the service of His Empire of stern Law and Order, efficiently upheld, men have found and will find salvation.

Agresi, disiplin dan penyerahan yang terdapat dalam ajaran Muhammad, saya pikir… agama yang baik dan terhormat untuk umat manusia. Semangatnya, jika bukan rumusannya, hadir secara berlimpah di dunia modern kita… Saya tidak memiliki keraguan dalam hal pengabdian kepada seorang yang tangguh… Tuhan dan untuk melayani Kerajaannya dari Hukum dan Ketertiban yang tegas, ditegakkan secara efisien, manusia telah menemukan dan akan menemukan keselamatan.

Orientalis Jerman, Friedrich Delitzsch, mengakui bahwa Muslim menunjukkan:

owing to his religious surrender to the Will of God an exemplary patience under misfortune and he bears up under disastrous accidents with an admirable strength of mind. (Die Welt des Islam, p.28)

penyerahan religiusnya kepada Kehendak Tuhan, sebuah contoh yang patut diteladani ketika mengalami kemalangan dan ia menanggung bencana kecelakaan dengan kekuatan pikiran yang mengagumkan. (Die Welt des Islam, hal.28)

Agama Kebenaran

Konsep “Kebenaran” membentuk intisari ideologi Islam dan meliputi seluruh tatanan universal yang disajikan oleh Islam. Tidak hanya “kebenaran” sebagai suatu nilai fundamental dalam Kode Moral Islam yang terperinci – nilai yang membentuk fondasi karakter Muslim, tetapi Tuhan sendiri telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai “Kebenaran”, atau “Yang Benar”, Nabi Muhammad (SAW) Sebagai “Pembawa Kebenaran”, Al-Qur’an itu sendiri sebagai “Kebenaran”, dan bagi orang-orang yang benar setelah kematian mereka akan berada di “Tempat Yang Benar”.

Agama Kesederhanaan

Islam adalah agama kemurnian dan kesederhanaan yang paling unggul dari agama lainnya. Islam menekankan kemurnian tidak hanya pada pikiran dan hati tetapi juga pada tubuh, prinsip dasarnya adalah pengembangan kepribadian manusia yang selaras. Sehingga, melarang keras penggunaan semua minuman dan makanan, yang mungkin tidak sehat dan berbahaya bagi tubuh, atau pikiran atau keduanya. Jadi, larangannya yang mencolok tidak hanya mencakup semua minuman keras, misalnya anggur, opium, dll., Tetapi juga makanan yang berbahaya bagi pertumbuhan manusia yang sehat. Pada akhirnya, Kemurnian Islam mencakup semua pikiran, perasaan, dan perbuatan.